RSS

Category Archives: Mutiara Qolbu

♥Sepuluh Pesan Memilih Calon Suami♥

Perkara jodoh bak misteri, mencarinya susah-susah gampang. Banyak faktor yang mempengaruhi. Rasululllah SAW. Sendiri menganjurkan kita melihat dulu calon pasangan hidup dengan mata kepala sendiri, agar kelak tidak kecewa. Itu baru satu taktik saja. Masih ada taktik lainnyayang akan diungkapkan di bawah ini khusus untuk kaum wanita, bagi pria pun tak kurang manfaatnya karena mereka dapat mengambil pelajaran dari nasihat-nasihat tersebut:-)

  1. Doa. Berdoalah selalu kepada Allah agar membimbing kita dalam menemukan dan memilih calon suami. Lakukan shalat istikharah. Inilah taktik terpenting.
  2. Tanyalah hati anda. Degarkan hati nurani. “Radar” yang telah Allah berikan untuk membimbing dan memberitahu anda tentang calon yang prospektif. Hati biasanya lebih jujur daripada otak atau pikiran yang sering menipu dan merasionalisasikan hamper segala hal.
  3. Telitilah alasan mengapa pria tersebut ingin menikahi anda. Bila ada bukti bahwa alasan utamanya karena anda kaya atau cantik, atau kedua-duanya, lupakan saja pria itu. Kekayaan dan kecantikan anda toh tidak abadi. Lelaki itu boleh jadi akan meninggalkan anda bila tiba-tiba anda jatuh miskin atau cacat karena kecelakaan (meskipun hal ini tentu tidak anda harapkan):-(.
  4. Kenalilah calon suami dalam batas-batas yang diizinkan Islam, sebelum memutuskan untuk menikah. Hanya “melihat” seseotang sesekali atau dua kali dengan dtemani orang lain, yang mungkin mengharapkan pernikahan itu terjadi, tidaklah cukup untuk kondisi sekarang ini. Tanpa melanggar larangan Islam (berdua-duaan di tempat terpisah), cobalah anda memahami tabiatnya, baik lewat pengamatan sendiri ataupun lewat orang lain. Mintalah pendapat dari lingkungannya, terutama mereka yang telah lamaa mengenalnya, namun jangsn hanya terpaku pada kawan-kawannya, biasanya mereka akan menyembunyikan sifat-sifat buruknya. Tanyalah tentang banyak hal, tidak hanya latar belakang, karier, dan keislamannya.
  5. Telitilah keluarganya. Sifat-sifat anggota keluarganya: orang tua, saudara, dan kerabat lainnya juga hubungan calon suami dengan mereka. Hal-hal tersebut sangat penting demi keberhasilan (atau kegagalan) pernikahan, dan jawaban-jawaban atas pertanyaan ini perlu memuaskan untuk menjamin kehidupan perkawinan yang menentramkan.
  6. Pahamilah harapan-harapan calon suami anda. Cobalah mengetahui pemahaman calon suami anda tentang hubungan pernikahan, bagaimana ia akan berperilaku dalam berbagai situasi, dan apa yang ia inginkan dari anda sebagai istrinya kelak. Ini merupakan hal yang perlu didiskusikan dengan jelas agar tidak menjadi sumber kericuhan dalam kehidupan perkawinan. Bila anda malu menanyakan hal tersebut, mintalah seseorang yang anda percayai untuk melakukannya. Pada tahap lanjutan negosiasi menuju pernikahan, diskusi tersebut harus meliputi masalah-masalah seperti keluarga berencana, kapan anak-anak diharapkan lahir, bagaimana pendapat calon suami anda tentang mambantu pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak-anak, apakah anda akan meneruskan kuliah atau bekerja, hubungan dengan keluarganya dan keluarga anda, dan masalh-masalh penting lainnya.
  7. Periksalah bagaimana pemahamannya tentang Islam dan apakah pemahamannya itu sudah sesuai dengan pemahaman anda. Ini sangat penting. Apakah ia mengharapkan anda melakukan banyak hal yng belum pernah anda lakukan hingga kini? Bila ia menekankan pentingnya menghindari segala sesuatu yang haram, apakah anda sendiri cukup luwes untuk mengikuti cara hidup suami anda kelak yang mungkin “terlalu mengekang” bagi anda. Atau sebaliknya
  8. Jangan tergesa-gesa. Banyak pernikahan menjadi berantakan karena terburu-buru dan tidak memikirkan hal di atas. Perceraian yang terjadi seminggu, sebulan, atau setahun setelah ijab Kabul, bukanlah hal yang mengejutkan di kalangan muslim
  9. Tanyalah diri anda, apakah anda menghendaki pria ini menjadi ayah anak-anak anda? Bila anda ragu, pikirkan kembali rencana pernikahan anda. Ingatlah, pernikahan tidak untuk hari ini atau esok, tetapi seumur hidup, dan tujuannya adalah membangun sebuah keluarga. Bila pria ini tampaknya tidak akan menjadi seorang ayah yang baik, anda agaknya harus mengasuh dan membesarkan anak-anak anda sendirian, tanpa bantuannya.
  10. Jangan terpaksa. Anda sendiri harus merasa senang dengan rencana pernikahan itu, bukan orang lain. Sekali lagi, penampakan “keislamannya”- saleh, sering ke masjid, mengatahui Islam, tidak bergaul bebas dengan lawan jenis yang bukan mahramnya- tidak dengan sendirinya menjamin bahwa pria itu adalah suami yang cocok bagi anda. Bila seorang pria mempraktikkan sunah hanya dalam ibadah kepada Allah, berarti bahwa pria itu belum sepenuhnya memahami Islam. Memiliki kasih saying seperti yang diperintahkan Islam, perlu bagi pasangan pernikahan. Sifat penting ini perlu diteliti pada diri calon suami anda.

 

Dikutip dari :       “Islam Itu Indah (renungan dan pengembaraan rohani guru besar komunikasi)”

Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 8, 2010 in Mutiara Qolbu

 
 
%d bloggers like this: