RSS

Category Archives: Catatan Nurani

AGAMA, PENDIDIKAN, DAN POLITIK SEBAGAI PILAR MENUJU INDONESIA EMAS

Di atas adalah sebuah tema seminar yang diadakan di kampusku tercinta Politeknik Telkom pada 9 Desember 2010. Seminar yang luar biasa, menurutku. Aku yakin peserta seminar yang lain sependapat denganku. Percaya deh

Seminar yang di bagi atas dua sesi itu lumayan nyangkut di hatiku (jemuran kaleeee..hhehe). Maksudnya, ada kesan tersendiri gitu sebelum dan sesudah aku ikut seminar itu. Sesi pertama yang berlangsung dari pukul 10.00-11.30 diisi oleh Bpk Zulkarnaen. Beliau adalah seorang dosen kewarganegaraan di kampusku. Dari slide yang aku baca tadi nampak beliau adalah salah satu intelektual handal yang dipunyai negeri kita tercinta, Indonesia Raya. Beliau memaparkan kaitan ketiga hal diatas, yaitu agama, pendidikan, dan politik yang menjadi pilar guna terwujudnya Indonesia emas. Kawan tentu dapat menelaah sendiri maksud istilah Indonesia emas. Namun disini saya ingin mengulas kembali apa yang telah Beliau share pada peserta seminar. Berbagi ilmu gitu ..

Mengawali pembahasan, Bapak Zulkarnaen bercerita pernah mendapat sebuah email dari kawannya di belahan dunia lain. Email tersebut berisi tentang apa yang membedakan negara maju(kaya) dan negara berkembang (baca: miskin). Perbedaan keduanya tidak terletak pada umur suatu negara. Kita ambil contoh negara India yang peradabaannya telah ada sejak sekitar 2000 tahun yang lalu. Bisa kita lihat, perkembangan negara India cenderung terlambat dibanding negara yang lain. Walaupun akhir-akhir ini India berupaya keras membangun citra positif dengan mengembangkan sektor teknologi nuklir. Namun, peringkat-peringkat dunia dengan kategori yang sama sekali nggak bisa dibanggakan pernah disandang oleh India, semisal negara yang memiliki tempat terkotor di dunia, negara dengan polusi terparah di dunia, salah satu negara dengan tingkat kriminalitas tertinggi di dunia. Hal itu mrnjadi bukti konkrit bahwa kuantitas umur suatu negara tidak menjamin kemajuan negara tersebut.

Parameter selanjutnya adalah sumber daya. Jepang adalah negara yang 80% wilayahnya pegunungan tanpa bisa ditanami apa-apa. Jarang sekali lahan subur yang bisa menghasilkan tanaman di sana. Apalagi setelah bencana kemanusiaan yang pernah memporak porandakan Jepang, yaitu Bom Hiroshima-Nagasaki, menyebabkan vegetasi dan tanah di wilayah tersebut tidak bisa produktif. Namun, jangan ditanya soal kemakmuran negara dan penduduknya. Hal pertama yang terlintas di pikiran saat mendengar kata Jepang adalah kemajuan teknologi dan raksasa ekonomi dunia. Slogan khas Jepang yang mendunia adalah Kaizen, yang berarti mencontoh yang baik, membuang yang buruk, dan menciptakan produk baru yang lebih unggul. Tak heran dunia kini seakan dikuasai oleh Jepang. Sebut saja industry otomotif. Aku yakin, sebagian besar kendaraan Kawan pembaca adalah merek dari Jepang. Iya kan??

Lain Jepang, ada negara Swiss yang menjadi negara penghasil coklat terbaik di dunia. Bagaimana bisa coklat dari Swiss memiliki cita rasa sedemikian lezat, padahal di negara tersebut tidak dapat perkebunan coklat. Ya, Swiss mengimpor coklat dari negara lain dan mengolahnya di negeri sendiri untuk kemudian mengekspornya ke seluruh dunia.

Nah, apakah yang membedakan negara maju dan berkembang itu adalah factor intelegensia?? Ow ..ternyata juga bukan. Banyak imigran kulit hitam dari Afrika yang dari negara asalnya tidak berguna merantau ke Eropa atau Eropa malah di sana menjadi orang sukses. Kaum intelektual dari negara berkembang saling berinteraksi dan berdialog dengan intelek dari negara maju, dan tidak ada beda di antara mereka. Terlihat masing-masing memiliki intelektualitas yang sepadan.

So what??

Trus  menurut kawan pembaca  apa yang membedakan negara maju koq semakin maju dan negara berkembang susah sekali maju?? Ternyata jawabannya adalah soal sikap/perilaku. Masyarakat negara maju cenderung mematuhi prinsip-prinsip sebagai dasar kehidupan. Memiliki integritas yang tinggi dan menempatkannya sebagai tolak ukur kualitas pribadi. Bertanggung jawab terhadap sesuatu yang diamanahkan kepadanya. Dan yang sangat terlihat berbeda adalah ketaatan pada aturan yang berlaku. Contoh sederhana saja. Jika di Jepang kendaraan angkutan umum tertib meenjemput dan menurunkan penumpang di tempat yang telah di sediakan, lain halnya dengan di Indonesia. Angkot, bus, dan segala macam angkutan umum sering ngetem dan menurunkan penumpang di sembarang tempat. Itu baru contoh kecil, contoh yang lain silahkan kawan pembaca cari sendiri.

Hemh..ternyata cukup simple ya.. tapi, melaksanakannya luar biasa sulit. Nggak usah nyalahin orang lain dulu. Kita introspeksi diri kita aja terlebih dahulu. Sekaligus mengingatkan diri saya pribadi. Sudahkah kita menjadi pribadi yang taat aturan, apakah kita masih sering –dengan sengaja-menerobos lampu merah di perempatan jalan, atau dengan alasan jarak jembatan penyebrangan terlalu jauh, jadi kita dengan santainya meluncur menyebrangi jalan raya yang padat kendaraan. Atau permasalahan klasik di dunia pendidikan, apalagi kalo bukan contek-mencontek. Wah-wah.. jangan keburu menggerutu sendiri kalo di siaran televisi ada berita tentang koruptor yang ketangkap KPK, lha wong kita sendirinya juga-secara nggak sadar-udah belajar jadi koruptor. Amit-amit deh ya..

Sekali lagi ya, bukan berarti aku udah memahami segala bentuk ketaatan hukum, atau teori mengenai  integritas. Di sini mari kita belajar bersama-sama memaknai, menghayati, dan sekaligus mengamalkan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah sebagai dasar kehidupan.

Yes we can!!!

 

(Bersambung. Baca: AGAMA, PENDIDIKAN, DAN POLITIK SEBAGAI PILAR MENUJU INDONESIA EMAS bag 2)

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 10, 2010 in Catatan Nurani

 

Tags: , , , ,

 
%d bloggers like this: